"Saya sangat berterimakasih karena tuan-tuan semua mengenali saya dan nona Li Wei. Namun, maafkan saya karena tidak mengenal kalian, dan kami hanya ingin lewat. Saya harap tuan-tuan bersedia memberi jalan buat kami semua," ucap Komandan Jiang sambil memberi sikap hormat. Melihat tingkat kultivasi salah seorang dari mereka yang ada dihadapanya, komandan Jiang bisa menganggapnya sebagai senior.

Gao Zhen tersenyum, sinis. "Memberi jalan? Tentu saja. Siapa yang berani menghalangi perjalanan komandan Jiang yang perkasa. Silahkan! Kami tidak akan menghalangi. Tetapi, dua wanita cantik yang ada di belakang komandan Jiang, bisa ditinggalkan bersama kami agar tidak memberatkan perjalanan.

Mendengar itu, komandan Jiang berubah ekspresi wajahnya, namun dia tetap berusaha tenang. Dia harus mencari cara agar bisa memberikan kesempatan untuk nona Li Wei melarikan diri.

Li Wei, dengan sifatnya yang pemberani dan emosinya yang belum stabil, menatap mereka dengan marah. "Huh, siapa yang sudi bersama manusia busuk seperti kalian."

Mendengar ucapan Li Wei, bukannya marah, Gao Zhen dan rekan-rekannya justru tertawa terbahak-bahak.

"Cukup pemberani. Sangat pantas menjadi anak walikota," komentar salah satu rekan Gao Zhen, mengagumi keberanian Li Wei.

Yun Qing tanpa sadar, mendekatkan tubuhnya di belakang tubuh Lynx untuk berlindung. "Tenanglah, mereka tidak akan bisa menyakitimu selama ada aku disini." Kata Lynx dengan suara pelan menenangkan.

Zhou Rui, salah satu dari mereka, tampak tidak sabar. "Gao Zhen, kita bunuh saja mereka langsung. Kita tidak perlu berlama-lama dan segera kembali."

"Gao Zhen?" batin Komandan Jiang. "Apa hubungan dia dengan Gao Qian?"

Gao Zhen terdiam sejenak dan menatap Komandan Jiang, matanya penuh ancaman. "Komandan Jiang, aku akan membiarkan kalian semua lewat, aku hanya ingin kamu menjawab satu pertanyaanku."

"Apa yang ingin ditanyakan?" tanya Komandan Jiang dengan tenang, pengalaman sebagai komandan membuatnya terbiasa bersikap tenang dalam kondisi seperti ini.

"Katakan, ke mana perginya Gao Qian?" tanyanya dengan nada besar dan menuntut.

Komandan Jiang mempertimbangkan pertanyaan itu, mencari jawaban yang tepat. "Apa hubunganmu dengan Gao Qian?" tanyanya kembali, mencoba menggali informasi lebih dalam.

Gao Zhen tertawa, sombong. "Apa hubunganku dengannya, kamu tidak perlu tahu. Jika kamu tidak menjawabnya, kepalamu sebagai gantinya," ancamnya, suaranya penuh ejekan dan ancaman. Situasi semakin tegang, dengan kedua belah pihak bersiap menghadapi konsekuensi dari percakapan ini.

"Paman Jiang, mereka pasti kalian terlibat dengan Gao Qian?!" seru Li Wei, suaranya dipenuhi amarah dan kekhawatiran. Karena pertolongan seseorang yang tidak mereka ketahui, rencana Gao Qian untuk menculiknya telah digagalkan. Sekarang didepan mereka, muncul masalah yang sama. Mungkinkah penolongnya datang lagi?

Komandan Jiang menajamkan tatapannya. Ia tahu, tak ada gunanya berdebat lebih lama. Orang seperti Gao Zhen hanya memahami satu bahasa—kekuatan.

"Jika aku tahu di mana Gao Qian, aku tidak akan menyembunyikannya darimu," ujar Komandan Jiang, suaranya tetap tenang, tapi tubuhnya mulai bersiap. Ia melirik Li Wei dan Yun Qing, memberi isyarat halus agar mereka bersiap melarikan diri kapan saja.

"Tangkap mereka!" Gao Zhen memberi perintah kepada rekannya yang lain.

"Xiao Ling! Bawa mereka pergi sekarang!" seru Komandan Jiang, sambil mengeluarkan energi spiritualnya, bersiap menahan orang-orang yang ada di depannya.

Xiao Ling yang tidak ingin ketahuan kemampuannya, segera menarik tangan Yun Qing dan Li Wei, bersiap melarikan diri ke dalam bayangan pepohonan. Namun, sebelum mereka sempat bergerak, Xia Tao sudah melesat menghadang mereka dengan senyum mengejek.

"Ke mana kalian hendak pergi?" tanyanya, sikapnya santai namun jelas menghalangi jalan mereka.

Di saat yang sama, Huang Fei bergerak cepat menghadang para prajurit yang hendak membantu Li Wei melarikan diri. Dengan satu serangan telapak tangan ringan yang dialiri energi perak, ia melemparkan beberapa prajurit ke belakang, membuat mereka jatuh tersungkur. "Aku tidak akan membunuh kalian secepat ini. Lihatlah nasib komandan tercinta kalian."

Gao Zhen menyipitkan mata, mendeteksi gerakan yang dilakukan komandan Jiang. Sebagai seorang Kultivator Master Foundation Emas Hitam, ia bisa merasakan level kekuatan Komandan Jiang yang berada di tahap Master Foundation Perak Akhir. Dengan senyum dingin, ia memberi tanda kepada Xu Wei, seorang Kultivator Master Foundation Perak Akhir, untuk maju menyerang.

Xu Wei melangkah ke depan, senyum mengejek terukir di wajahnya. "Komandan Jiang, tingkat kekuatan kita sama, mari kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita."

Komandan Jiang mengalirkan Qi ke pedangnya, mata tajamnya menatap Xu Wei tanpa gentar. "Tidak perlu banyak bicara, mari mulai."

Xu Wei bergerak lebih dulu, tubuhnya berkelebat seperti bayangan. Dengan cepat, ia mengirimkan serangan telapak tangan berlapis energi perak ke arah dada Komandan Jiang. Komandan Jiang menangkis dengan pedangnya, menciptakan dentuman keras saat energi bertabrakan di udara.

Serangan pertama belum berakhir, Xu Wei berputar di udara, kakinya menyapu tanah dan melepaskan gelombang kejut yang membuat tanah retak. Komandan Jiang melompat ke belakang, lalu menusukkan pedangnya dengan presisi. Xu Wei nyaris tak bisa menghindar, pedang itu meleset hanya beberapa jari dari lehernya.

"Hampir saja," gumam Xu Wei dengan seringai, lalu ia melesat maju lagi dengan serangkaian serangan cepat.

Komandan Jiang mengayunkan pedangnya dalam lengkungan tajam, menciptakan bilah energi yang memaksa Xu Wei mundur. Namun, Xu Wei tidak tinggal diam. Ia mengangkat kedua tangannya, menciptakan pusaran energi perak yang berputar liar di sekitar tubuhnya.

"Teknik Gelombang Perak!" seru Xu Wei sambil melepaskan serangan ke depan.

Komandan Jiang menancapkan pedangnya ke tanah, membentuk perisai energi untuk menahan serangan tersebut. Dentuman keras terjadi, menggetarkan udara di sekitar mereka. Percikan energi beterbangan, menerangi hutan yang mulai porak-poranda akibat benturan kekuatan mereka.

Di sisi lain, Xiao Ling, Li Wei, dan Yun Qing hanya bisa menonton pertarungan sengit itu, tertahan oleh Xia Tao yang berdiri di depan mereka. Lynx masih bersikap santai, memandang kedepan. Mata Li Wei menyipit, mengamati setiap gerakan dengan seksama sambil menggertakkan giginya, tangannya mencengkeram gagang pedangnya dengan erat, sementara jelita berusaha menjaga ketenangannya meskipun tubuhnya gemetar. Pertarungan di depannya sangat berbeda dengan pertarungan yang sering terjadi di pulau yang ada di dimensi mereka.

Sementara itu, kelompok Gao Zhen tetap diam di tempat, menunggu perintah lebih lanjut. Zhou Rui berdiri dengan tangan terlipat, matanya menyipit saat mengamati pertempuran Komandan Jiang dan Xu Wei.

"Menarik," gumam Gao Zhen sambil menyeringai. "Mari kita lihat siapa yang bertahan lebih lama."

Komandan Jiang dan Xu Wei terus bertukar serangan dengan kecepatan luar biasa. Tubuh mereka bergerak seperti kilatan cahaya, suara dentuman dan ledakan kecil menggema setiap kali serangan mereka bertabrakan. Keduanya sama-sama berada di level yang seimbang, membuat pertarungan ini menjadi semakin sengit.

Namun, di satu momen, Komandan Jiang menemukan celah. Dengan satu gerakan cepat, ia menghilang dari pandangan Xu Wei dan tiba di belakangnya. Mata Xu Wei membelalak, namun sebelum ia bisa bereaksi, pedang Komandan Jiang sudah meluncur ke arahnya.

Xu Wei mencoba menangkis, tetapi terlambat. Pedang itu menggores bahunya, membuatnya mundur beberapa langkah dengan darah merembes dari lukanya.

"Kau cepat..." gumam Xu Wei dengan napas tersengal.

Komandan Jiang mengangkat pedangnya lagi, bersiap melanjutkan pertarungan. "Dan kau masih terlalu lambat."

Xu Wei segera menghunus pedangnya dan meningkatkan kekuatannya, untuk memulai pertarungan berikutnya.

Gao Zhen menyipitkan matanya, lalu tersenyum. "Cukup," katanya, suaranya tajam. "Sekarang giliran yang lain."

Komandan Jiang berdiri tegak, napasnya sedikit terengah setelah pertarungan sengit melawan Xu Wei. Meskipun berhasil melukai lawannya, ia tahu luka yang diberikan tidak seberapa, dan pertarungan ini masih jauh dari selesai.

Zhou Rui melangkah ke depan, matanya menyala dengan kesombongan. Sebagai seorang Kultivator Master Foundation Emas Awal, kekuatannya jauh di atas Komandan Jiang. Ia mengayunkan lengannya dengan santai, seolah pertarungan ini hanya hiburan baginya.

"Giliranku sekarang," kata Zhou Rui dengan nada malas. "Aku harap kau masih punya tenaga tersisa, Komandan Jiang."

